Ada yang salah dengan senja ini.
Luka namanya. Menganga tepat saat magenta
digusur pekat.
Gelombang itu telah memecah bayangmu
menjadi serpihan kekonyolan berwarna keemasan.
Seolah engkau begitu jauh di seberang batas
langit dan hanya mengirim riak-riak kecil sebagai jawabnya.
Teruslah bersembunyi di antara pulau-pulau
pasir di belantara lautan teduh, hanya di sanalah engkau bisa bersembunyi dalam
lindap air malam lalu muncul kembali saat gravitasi bulan menariknya keesokan
hari. Mengikuti maumu sendiri. Saat itu seisi lautan juga tahu bahwa aku pergi
bersampan lalu menunggu.
Sekali lagi, ada yang salah dengan senja
ini.
Sampan kayu tanpa kemudi, kembali seorang
diri membelakangi tenggelamnya semburat magenta, lalu menepi, membiarkan
serpihan riak kecil membuainya hingga ia benar-benar berhenti. Tak ada
kehidupan di dalamnya.
Seisi lautan pasti tahu, ada yang
tertinggal di tengah lautan sana: seonggok badan dan secuil jiwa yang terus
mencari.
