Kebalikan

Suatu hari, saya mendengar percakapan ini dari balik kaca jendela:

"Duniaku dan duniamu adalah kebalikan.
Pagi adalah saat kau berputar pada poros mu, sementara aku belum juga terjaga.
Kala bintang dan lampu kota bersaing memendarkan sinar, giliranku mewarnai dunia, sementara kau hangat dalam lelap.
Atau ada banyak pagi saat aku menunggumu.
Juga banyak malam kau menungguku.
Tapi sulit sekali kita menyebrang hanya untuk saling tersenyum. Atau tertawa.
Harusnya ada jembatan, katamu. Agar kita bisa berbagi dunia.
Itu adalah tantangannya, kataku. Saat kita saling memegang radar agar menangkap satu frekuensi yang sama.
Ah, suatu hari nanti kita tak perlu jembatan.
Meski dunia kita tetap berkebalikan, kita akan melihatnya dari mata hati yang sama, radar yang sama.
Semoga, kebalikan ini menjadikan arti."

Suara itu lindap bersama kereta terakhir tujuan Bogor yang seketika tiba di Pondok Cina. Saya melangkah gontai, meninggalkan stasiun sepi itu bersama gaung cerita tadi, menuju hiruk-pikuk Margonda.








Diberdayakan oleh Blogger.