Haruskah kita saling berkaca
Jika rupa kita tak sama.Engkau diam, aku bicara, kita mendengar
Aku diam, kau bicara, kita mendengar
Lalu memahami.
Engkau bicara, aku bicara, kita tak saling mendengar. Tak mengerti.
Suara dan telinga kita berbeda, juga kepekaannya.
Hati kita tak sama.
Mengapa kita harus saling mematut
jika bayangan di kaca itu bisu dan tuli?
Refleksi bukan selalu boneka tali yang menurut kau atur sesuka hati.
Tak perlu belajar darinya karena melihat saja tak kan cukup.
Lalu kita memecahkan cermin ini. Suara, telinga, hati dan mata kita merdeka.
Dan kemudian masing-masing kita mencari padanan lain untuk berkaca.
Tertawan dalam bayangan.
