Menyeberang Usia

Bocah kecil bertopi merah itu berpikir. Di seberang jembatan usia. 


Hari ini pertama kalinya ia menyadari bahwa terkadang dunia di sekelilingnya berputar tanpa mengajaknya beranjak dari tempat yang sama. Serasa pukulan tanpa tandingan, ketika Tuhan memakai orang-orang di sekitarnya untuk mencelikkan kekeliruan cara ia berpikir. Ajaibnya, mereka datang di suatu setting yang sama pada periode waktu satu lini. Seperti segerombolan kumbang mencoba memperingatkan dengan berdengung cukup keras. Ia pun karena lama sekali ditinggal oleh dunia berputar jadi tak lebih seonggok batu melawan lebah. 

Maksud dari ketertinggalan nya adalah rupa-rupa wacana tentang pendewasaan. Hei, ia tumbuh pada konteks dimana jika kau tak-dewasa-maka-kau-tak-bertahan-hidup! Ia terka selama ini, dewasa adalah konsep yang monotetik berhubungan dengan independensi: Jika kau tak hidup bergantung lagi pada orang tuamu dan kau secara sadar mengerti betul apa yang baik dan buruk dan siap menanggung resiko atas segala sesuatu itulah dewasa! Tentu tak dimungkiri beberapa diskursus tentang dewasa dikaitkan dengan batas umur seseorang mengkonsumsi tayangan tertentu atau memakai komoditi tertentu, tapi itu bukan hal yang sedang ingin ia bicarakan. Ia sedang berbicara bahwa dewasa berarti mampu memilah-milah sikap juga cara bertindak pada setiap orang. Bahkan kepada teman-teman terdekat sekalipun. Seorang dewasa harus mampu mendefinisikan batas yang tak boleh sekalipun dilanggar untuk alasan apapun. 


Ia pun tertegun. Enggan menyeberang jembatan itu.


Diberdayakan oleh Blogger.