Monolog Letih (tutur seorang pemimpi kepadanya)


Sepanjang perjalanan hidup, tak sekalipun ku mungkiri bahwa banyak masalah terjadi begitu saja. Mulai dari pemiskinan rakyat oleh para elit, pelanggaran hak asasi manusia, kriminalisasi orang suci hingga kerakusan manusia. Aku penat dengan semua itu dan selalu ingin berbuat sesuatu untuk menjadikan bumi sebagai tempat yang paling tidak lebih baik untuk ditinggali. Aku selalu ingin terlibat dalam perubahan yang lebih baik. Dan tentu saja, ku bertemu dengan banyak orang yang sama. Dan bertemu denganmu. Pribadi yang sungguh mencintai dengan tulus segala upaya untuk memutar masalah menjadi keindahan itu.

Inspirasi. Itu yang sering tersesap dari orang-orang sepertimu, mereka yang tak lelah berjuang untuk kemanusiaan.

Masalahnya adalah, hingar bingar gerakan perubahan ini membawa ku pada mata yang tak bisa kutipu bahwa kemunafikan banyak terlibat di dalamnya. Sering kupergoki mereka yang mengedepankan kepentingan sendiri namun membungkusnya dengn sangat cantik atas nama perjuangan dan kesetaraan. Juga ada yang bersusah payah menutupi kekurangan dengan saling menyalahkan sesamanya. Ada beberapa mengenakan topeng persahabatan namun siap menikam untuk melompat lebih tinggi. Tak kurang dari mereka mengatasnamakan keberagaman untuk membenarkan ketidak adilan dan pembalasan dendam. Sebagian lain diam-diam mengamati tanpa bersuara tapi siap terbang tinggi kala jendela kesempatan terbuka. Lalu ada yang mengobarkan penghakiman atas nilai yang dianut dalam kesepakatan tak kasat mata. Ada yang muak lalu pergi mengendap-ngendap padahal dia berlari bebaskan diri.

Aku muak dan tidak merasa sedikitpun nyaman berada di dalam pusaran rumit itu. Lalu kadang aku pergi sebagai seorang pengecut yang lari dari semua pintu tapi selalu kembali karena soalan waktu.

Diberdayakan oleh Blogger.