Jingga Biru Pelangi


wings2.jpg

Di antara jingga dan biru, mereka tiga adalah satu.

“ Aku ingin terbang!” gumam Ru singkat ditengah deburan ombak Pantai
Kuta.
Camar kepala perak menghantar senja di ujung barat laut, ada garis cahaya keemasan di kaki langit.

Tari tetap bergeming dengan mata sayu terpejam, Ia tahu Ru menanti jawaban tapi Ia tetap diam. Membiarkan senja menyapu impian Ru untuk terbang.
Bagi Tari, Doru adalah keajaiban yang sengaja diciptakan Tuhan untuk membuatnya melihat dunia dengan kacamata warna-warni. Doru seperti tumpahan cat aneka warna di kanvas polos sejarah hidupnya. 

“Ta..kapan ya aku punya sayap seperti malaikat?”

Tari masih membiarkan ucapan Ru lenyap bersama buih-buih pantai. Ru beranjak dan berjalan menuju ujung dermaga, lalu merentangkan tangannya. Tari berharap Dodo ada di sampingnya, menerjemahkan impian Ru lewat petikan gitar string miliknya.

Dodo, seorang rocker kenamaan Pulau Dewata. Panggung musik adalah pentas sandiwaranya, di balik gahar penampilan seorang musisi garis keras miliknya tersembunyi sempurna sosok penyair dan pelantun tembang-tembang melankolik.
Dodo, Tari dan Doru, tiga manusia dalam satu titik temu. Bukan simpul kasat mata yang mengikat mereka bertiga. Semua berawal dari toko musik di bilangan Kuta yang dengan beraninya memutar musik kencang-kencang  di suatu pagi tepat sesudah perayaan Nyepi usai digelar.

Kuta, 27 maret 2009

Kabut masih memuat sisa-sisa keheningan Nyepi di pagi hari, aroma hio bercampur kenanga menguar dari tiap sudut ruang udara. Jalanan Kuta masih lenggang, toko-toko di sepanjang jalan masih tertutup rapat melengkapi sepi mencekam di pagi setelah Nyepi. 

Seolah mendobrak gerbang-gerbang sunyi, terdengar musik beraliran keras diputar kencang-kencang dari toko musik kecil di sebelah Starbucks.
Dua pasang kaki berjalan dari arah berlawanan menuju sumber suara yang sama. Mereka bertemu tepat di depan pintu toko musik nekat itu.
Keduanya saling menatap, tersenyum, seolah memiliki luapan ekspresi yang sama. Terpautnya kimia pada dentuman musik yang sama membuat mereka berdua tidak ragu untuk melangkahkan kaki ke dalam Toko, penasaran pada makhluk nekat yang memutar dua lagu Be Your Own Pet berturut-turut dengan volume ratusan desibel.

Perempuan muda berwajah bosan menatap mereka dengan tatapan tak berdosanya. Rambut ikal pendeknya di cat warna ungu gelap, senada dengan eyeliner dan bando berpita kecil di kepalanya.

“ Well, jika anda keberatan dengan suara lembut dari speaker ini, saya sama sekali tak peduli!” Tukasnya ketus sambil pura-pura sibuk di belakang meja kasir.

Kedua pengunjung asing di pagi buta itu kembali berpandangan, seolah menemukan orang yang bertahun-tahun mereka cari.

“ Biarkan saja Jamin Orall menggebuk drumnya sementara kita bertiga bisa menikmati kopi bersama-sama di luar”, pria gondrong berselempang gitar itu memulai petualangan mereka.

Gadis muda berpostur mini  yang berdiri di sampingnya menyahut, “ sure! Ide yang bagus! Yuk jalan!”. Ia menuju ke balik meja kasir dan menggandeng pemilik toko berambut ungu itu. Mereka berjalan keluar bersama-sama. Tanpa penolakan, tanpa kecurigaan. Hanya kehangatan yang sudah dinanti-nantikan.

Mereka merebahkan diri di atas pasir Kuta, sayup-sayup masih terdengar BYOP dengan gaya-gaya rebel yang tergurat jelas di tiap ritmiknya.

“ Gue Tari, panggil aja Ta. Hidup Gue membosankan. Gue bosan menunggu Kuta hidup lagi abis Nyepi. Gue bosan menunggu bosan gue ilang, so jangan salahin Gue kalo speaker di toko gue set full volume di pagi buta kaya gini!”

“ Gue Ru, Doru, Gue sebenarnya malaikat. Sayap Gue ilang pas Gue lahir. Gue pengen terbang bareng Michael and Gabriel suatu hari nanti.”
Tari tertawa setengah, Dodo terbahak-bahak.

“Aneh ah lo pada! Gue Dodo, suka maen gitar, cowok normal! .” Dodo mengambil gitar string boncel nya dan mulai memainkan tembang-tembang lawas Ari Lasoo.

Entah mengapa, perpaduan Ari Lasso, sayup-sayup BYOP, kerlap-kerlip gelombang laut selatan di pagi hari serta jingga dan biru nya Kuta telah menahan ketiga insan manusia ini dalam satu ruang tanpa sekat: persahabatan.
Keajaiban telah menciptakan benang merah di antara gumpalan hidup mereka pada hari-hari berikutnya. Keajaiban yang sama yang mempertemukan mereka pada pagi buta setelah Nyepi.

Ta tak perlu susah mengusir bosan karena selalu ada Ru yang menyediakan telinga kelincinya untuk mendengar segala keluh kesah, amarah juga cerita indah. Meski Ru tak pernah bisa diam, seperti anak hiperaktif yang terperangkap di tubuh gadis kecil dua pulh satu tahun.

Ru tak perlu takut bermimpi lagi, karena selalu ada Dodo yang menyampaiakan harapannya kepada Tuhan lewat petikan gitar string dan suara surganya. Ru percaya Dodo adalah jelmaan manusia setengah malaikat yang ditakdirkan membawa semakin banyak rockers ke surga. Meski Dodo selalu tertawa terbahak-bahak ketika Ru bertanya apakah sayapnya sudah cukup lebar untuk dipakai terbang.

Dodo tak perlu berteriak pada laut setiap kali ia ingin berpuisi dan melucu. Karena selalu ada Ta yang siap mencatat semua syair dan kata-kata indahnya, juga mencecar jika ada ekspresi berlebihan. Meski Ta sangat susah tertawa dan menganggap standar lucu baginya lebih tinggi dari semua pemilik toko di Kuta.

Bagi Ta, Ru adalah warna dan Dodo orang garing sedunia.
Bagi Ru, Dodo adalah jembatan doa dan Ta kanvas putih tempatnya berkarya.
Bagi Dodo, Ta adalah perekam sejarah umat manusia dan Ru seorang pemimpi seutuhnya.
Ketiganya Scorpio.

Di antara jingga dan biru, mereka dua dan satu.

Air mata Ta menetes begitu saja tanpa dapat tertahan. Ia bangkit dari tunduknya dan memeluk Ru dari belakang. Ru masih merentangkan kedua tangannya menantang senja. Keduanya diterpa cahaya jingga keemasan dari kaki langit. Sementara hati mereka berselimut biru.

“ Ta...aku terbang saja ya...Kata Dodo, malaikat-malaikat sudah menungguku di atas sana untuk terbang bersama menuju surga”

“ Enggak Ru, jangan tinggalin Gue sendiri...cukup Dodo yang pergi duluan ke surga!” teriak tari sambil terisak-isak.

“ Aku akan ketemu Dodo di sana Ta, kanvas polos lo udah penuh warna-warni pelangi...sudah saatnya gue terbang.”

Ta merenggangkan pelukannya, Ia merosot tak berdaya di kaki Ru. Kematian Dodo pagi tadi seolah menutup hidupnya dengan kelabu, kontras dengan jingga atau biru.
 
Cahaya keemasan dari kaki langit datang semakin dekat, kaki Ru terangkat beberapa inci dari dermaga. Ia mengembangkan sepasang sayap seputih salju, mukanya bercahaya dan Ia terbang menuju awan-awan senja.
Ru sempat menoleh ke belakang dan tersenyum kecil, “ Ta...aku terbang!”.

---***---


Depok, 30 Oktober 2010
Wrote for a great sister in Christ,
Rukita Wustari Widodo
I hope we will meet soon in the heaven.
I John 5:11-13
-Dhika-
P.S: Happy Bithday!!

Diberdayakan oleh Blogger.