Untuk Viana, Yemima, dan Emeninta
Tiga yang bertaut bukan hanya karena hari jadi yang berurut.
Kadang aku tak sepakat dengan istilah ulang tahun, seolah maknanya tereduksi pada sekedar morfologi. Ulang tahun tak seharusnya menjadi penanda berulangnya rentang masa tiga ratus enam puluh lima seperempat hari. Karena jika demikian adanya, hidup hanyalah roda berputar di sepeda bocah lugu yang rebah : putaran demi putaran berada di poros sama meski posisi berpindah secara horizontal. Bukan. Kupikir kehidupan lebih daripada itu. Roda itu harusnya berputar melalui berupa-rupa medan, entah itu menempuh susah payahnya jalan lumpur atau tertempa di jalanan aspal Pantura yang panas dan banyak berlubang. Entah. Tapi aku yakin, kehidupan yang engkau jalani telah meninggalkan rupa-rupa jejak pada perjalanan banyak orang. Pada titik inilah aku tersengat untuk menuliskannya, bahwa hanya sedikit orang merekam kehidupan manusia-manusia pendobrak realita; para pewarna peta polos petunjuk hidup musafir-musafir yang tersesat mencari jalan keluar.
Itulah engkau, mewujud unik pada arus keseragaman dunia.
Semoga tak berlebihan jika kusebut bahwa kehadiranmu adalah jawaban doa dari para pembawa lentera yang hampir kehabisan minyak.
Viana, Yemima, dan Emeninta
Tiga yang bertaut tanpa melebur jadi sama,
Aku melihat bahwa cara mu memenuhi ruang-ruang hampa dunia adalah galur cahaya yang berkejaran menyalakan kegelapan. Cara mu hinggap dari satu sulur keterhubungan ke simpul penyatuan lainnya bukanlah hal yang sama sekali serupa dengan para penebar kesukaan itu. Pada satu penggalan kisah, mungkin engkau telah tinggalkan lebih dari sekadar jabat tangan hangat, dan di kisah lain jejak tanya lah yang engkau berikan.
Aku tidak sedang membawa kalian bertiga pada suatu kelindan kebingungan atau meja hijau berpadukan tuduhan. Sederhanaya, aku ingin melukis kilat cahayamu lewat kerumitan serebrumku, isi kepala ‘sebesar bakpau’ yang enggan berhenti melontarkan tanya.
Tanya itu mengantarkanku pada kerlingan jawaban di ujung-ujung embun pagi, saat jemariku menari tak berarah di muka layar segi empat ini.
Kilatan yang terbersit dalam inderaku mengejawantahkan kelindan persona mu:
Ada rempuhan “ingin” berukuran laksa tera dalam loh keberadaan mu. Ia tersirat dalam tiap tatap dan tingkah penuh yakin. Menyelubungi ulas dengan kobaran spirit tak kasat mata. Tegas warnanya, tanda bahwa komposisinya lebih dari sekadar satu warna. Rempuhan ini kadang menjelma jadi gentusan saat engkau berjumpa dengan celah tuk terbang pergi, tinggalkan segala lilitan yang buatmu tertahan pada situs seperti beberapa waktu belakang lalu.
Aku paham jika “ingin” dapat menyusup dalam tiap ruang hati setiap persona lalu menjajah dan memasung terang nya. Kadar “ingin” ini sekaligus juga sebagai penyala bagi kabut pekat penggelap. “ingin” inilah yang jika tak dihembus lewat landasan tepat dapat bermetamorfosa jadi perangkap. Mengikatmu pada satu roket berlaju cepat hingga kau sadari ia menyasar arah tak bertuan.
Anggap saja ada dua gantang berpancangkan dua sumber nyala. Satu diantaranya punya sumbu dengan liukan api merah biru, namun lekuk gantang itu terlalu besar hingga menenggelamkan pendarnya. Ia bersinar, memantulkan bias kemilau jingga pada permukaan licin sang gantang. Dari kejauhan memang tampak ada lingkar kecil menyala, namun tetap saja tak cukup mengurai netra tuk melihat sekeliling dunia. Satu gantang lain berpinggang lebih rendah, hingga hampir seluruh badan sumbu jadi kasat mata. Di puncaknya tak ada api, hanya tersisa lapisan karbon legam sisa pembakaran. Ia terlihat jelas, namun tak menguarkan cahaya. Sama saja. Keduanya tampak ada. Keduanya tak mampu menuntun dunia melihat dirinya. Memantulkan indahnya.
Suatu hari nanti aku melihat dirimu berada pada rupa-rupa pilihan. Sungguh harapku mencuat agar engkau masih mampu tuk memilih, meski tak satupun dihadapanmu dapat membuatmu melaju. Hanya jangan meringkuk sepertiku dulu, memunggungi realita dan memutuskan tuk sembunyi tanpa memilih. Aku yakin tangan mu mampu mencipta komposisi, merangkai pilihan sulit jadi cara baru tuk dijalani. Jangan lelah ya menggedor setiap kemungkinan yang ada. Karna barangsiapa mengetuk pintu akan dibukakan baginya, meski tak semua mata sadar bahwa ada berbagai cara untuk mengetuk, dan ada berjuta jenis pintu dalam hidupmu. Beberapa diantaranya mengantarkanmu pada tawa, sementara tiga lainnya menggoda ingin mu bergelut dengan pilihan. Juga tentang dua gantang itu, entah hari-hari ini hidup ku dan hidupmu adalah satu diantaranya, selalu ada pilihan untuk membuatnya jadi tiga: satunya ialah gantang dengan pinggang rendah bersumbu kobar merah jingga. Hadirnya mampu memercikkan hangat juga terang. Bukan agar dunia dapat melihatnya, tapi agar mereka mampu meihat indah diri mereka sendiri. Agar selalu ada tengadah syukur pada Empu Kehidupan yang menggurat setiap hal dan jalan dari segala sesuatu.
Selama aku hidup, terlalu banyak kulihat persona saling menodai sesamanya untuk mengangkat diri mereka lebih tinggi. Ada diantara mereka memakai kata juga senjata. Lebih banyak lagi persona mengenakan selubung sutera tuk menutup bekas luka pertarungan menuju puncak singgasana. Setelah mereka ada di atas sana, hanya ada curiga dan gemerlap perhiasan bertahtakan butir air mata sesamanya. Sedih sekali melihat tudingan dibalik senyum tipis itu.
Kututurkan hal ini karena aku melihat kilatan personamu, dan itu cukup buatku untuk tahu bahwa dunia masih menyimpan cahaya. Cahaya itu berasal dari kebenaran yang telah engkau tanam di hati. Biarkanlah itu tumbuh, agar tiap sulur segarnya meneteskan embun di tanah jiwa kering, menyejukkan kegelapan dengan lembut sinarnya. Jagalah tumbuhnya, agar kuncup demi kuncup mekar merebakkan aroma surgawi, menggantikan asap kesesakan dengan kebenaran. Juga biarlah ia berbuah lalu pergi menebar cahaya itu agar berlipat ganda sinarnya, agar tak berkumpul pada satu gantang saja berkobarnya, hingga setiap hati diterangi oleh Cahaya Sejati kepunyaan Nya. Ya benar, cahaya yang Tuan kita telah titipkan pada masing-masing kita. Jangan biarkan panas muson selatan atau dingin orografi meniup dan padamkannya, jangan meredup.
Aku juga pernah melihat seorang penyapu taman di musim gugur pada negeri sederhana. Sudah sejak ufuk mengerjap ia mengumpulkan dedaun kering berserak sementara langit segera melepas magentanya.
Ia tetap bekerja meski tak tahu kapan ranting-ranting itu berhenti melepaskan dadaunnya. Ia tetap tegar meski ia tahu bahwa angin kecil terus-menerus bertiup mengurai tumpukan daun di sudut sana. Ia tetap tersenyum meski terik terus membakar kepala tuanya sementara bocah-bocah kecil berkejaran menyerakkan lebih banyak lagi daun untuk dikumpulkanya. Pada mulanya aku tak paham mengapa ia begitu setia meski rupa-rupa hal datang mengganggunya. Perlahan setelah persona miliknya tak terlalu silau tuk kucecap, aku dapat memahaminya. Penyapu itu punya Satu Tuan yang tak pernah ia lihat hingga kini. Tuan itu juga menganugerahkan satu hal indah yang juga tak pernah sanggup ia lihat. Ia hanya mendengar dan tahu bahwa saat mentari tenggelam dan jingga bertatap dengan magenta, sang Tuan akan datang menjemputnya pulang di suatu rumah sederhana dimana pepohonan akan terus menghijau tanpa harus gugur dedaunnya. Penyapu itu seorang buta.
Tak semua orang dapat melihat cahaya, juga milikmu. Tapi setiap orang memerlukan cahaya untuk menatap dan menekuri keindahan dirinya sendiri, memahami bahwa setiap inchi dari keberadaan mereka adalah berharga di mata Sang Pengukir Musim. Seperti penyapu tua itu juga, yang tidak melihat tapi setia. Karena dia tahu apa yang harus dikerjakannya, tahu halangan apa di depannya dan tahu bahwa anak-anak harus tetap tertawa saat berkejaran di sekeliling daun gugurnya. Ia tahu bahwa cahaya itu ada, di balik mata buta dan tangan rentanya: cahaya tempatnya mengadu dan penuntun jalan pulang.
Aku terlalu percaya bahwa engkau sanggup mencahayakan terang yang diam dihatimu. Biar saja kabut di luar sana diam-diam menyergap pendar subuh hari, asal milikmu tetap bersinar dan berlipat ganda. Mata manusia adalah cermin yang tak mampu melukis kebenaran tanpa adanya cahaya. Jadi demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.
~*~
Sekali lagi terima kasih telah mau hadir melengkapi nukilan hidupku dengan cara mu menjalani hidup dan menerjemahkan Kasih Kristus dengan sederhana.
Aku berdoa agar dilipatgandakan cahaya mu sampai setiap orang mengenal seseorang yang sungguh-sungguh empunya cahaya dalam hatinya sepertimu.
Selamat ulang tahun.
Di depan pendaran layar segi empat,
1-17 Nopember 2011.
