“Hai, selamat malam!!”
Engkau tetap bergeming di sudut sana, seolah indera kita tak bersepakat satu bahasa sama.
Apakah selalu begitu?
Aku ingin berucap sederhana meski bukan dengan kata, hanya satu nukilan saja tidak lebih:
“Terima kasiH”
-------*-------
Kamis ini tak hanya kelabu hingga langit seolah enggan lagi membiru, lelah didera radiasi foton yang tak henti ingin jadikannya abu. Aku tak ingin diam sebenarnya, tapi engkau membuatnya begitu. Berlatar mendung tanpa tudung, langkahku tak terhenti sembari melirik dari sudut mata, hanya memastikan engkau masih ada di belakang sana. Menunggu.
Apakah engkau benar-benar menunggu? Semalam aku telah berkali-kali mencoba berbicara denganmu, namun tak satupun konduktor realistis yang menghantar gelombang suaraku padamu. Aku jadi teringat radio, mencoba membayangkan kita tak saling bisa mengerti karna frekuensi tak saling resonansi. Bukankah aku transmitter hidup yang hanya punya satu harap agar gelombangku kau tangkap? Tapi palsu selalu menghantuiku, membujuk agar hati sedikit mengamuk. Ya, rindu ini telah beku setelah dijemur api cemburu, sudah cukup menit berlalu sejak kau tak beranjak dari sudut itu.
Fakta ini membaur dengan fiksi, kehadiranmu di sini adalah buktinya. Dahulu pelangi bersahabat dengan kurcaci, sementara kancil yang nakal tak berhitung jumlah mentimun yang dia curi. Tapi dongeng itu sudah tua sejalan dengan bumi menuai usia. Di era televisi tak mewah lagi ini, aku dihadapkan pada fakta ajaib sejuta umat: melihatmu.
Hari sudah makin petang, sangat pendek memang jika pagi hingga sore berlalu dengan menunuggu, tanpa kita tahu apa yang kita nantikan itu layak ditunggu atau tidak. Pastinya aku tetap melangkah, dengan atau tanpamu yang kini mulai mengekoriku.
-------*-------
Malaikat, aku sempat ragu apakah bias definisi ini mengarah padamu. Pertama aku belum pernah melihat hantu. Puji Tuhan. Kedua, Injil ajarkanku mempercayai keberadaanmu. Dari dua premis ini aku memberanikan diri merajut silogisme dini: bahwa makhluk ajaib yang kulihat tanpa indera itu adalah engkau. Malaikat.
Setelah hari sabat berlalu dipenghujung embun pertama pagi, fajar tak henti menggeliat penuh kemenangan, seolah hari sukacita tlah tiba. Hitungan satu dalam sepanjang minggu yang belum terlampaui menandai peristiwa ini.
Perempuan-perempuan ini mungkin bukan lagi teruna, tapi jalan menanjak bukanlah perkara untuk hentikan langkahnya. Satu atau dua dari mereka bernama Maria. Perih memang jika ziarah menjadi satu tanda bahwa kematian itu memang ada, nyata merenggut orang tercinta. Dia yang ditengok kuburnya adalah Raja bangsa-bangsa.
Jejak-jejak perempuan mulai menandai halaman bukit batu, satu pemahaman bahwa mereka hampir tiba. Tak sempat detik meneriakkan kala, bumi bergoncang membawa sahabat karibnya, sang gelegar. untuk datang bersama menyambut mereka.
Sosok muda itu turun dari langit yang seolah tak lagi cerah, kalah akan sinar wajahnya: lindap memancar kilat. Lihat pakaiannya, bahkan salju tak lagi sebanding putih dengannya. Ia begitu perkasa, jauh dibandingkan dengan penjaga-penjga kubur yang sejak tadi ketakutan melihat kehadirannya.
“Jangan takut, sebab aku tahu kamu mencari Yesus yang disalibkan itu. Ia tidak di sini, sama seperti yang telah dikatakanNya….”
Perempuan-perempuan itu diam lelap tanpa bahasa, menunggu ujar selanjutnya. (Parafrase MATIUS 28:1-6a)
Malaikat, orang bilang jika aku bisa melihatmu, itu pertanda bahwa aku harus bersiap mengakhiri skenario singkat kehidupan. Tapi bukankah kita tak pernah secara langsung bertatap? Udara dan cahaya tak pernah menghantar bayanganmu ke retina ku. Secara inderawi aku tak benar-benar melihat bukan? Aku hanya tahu engkau ada.
Mungkin engkau berdoa untukku saat aku sudah lelap menuju suatu tempat lain yang aku sendiri tak tahu. Mimpi bunga tidur memang bukan hanya mekar sebagai mawar, tapi juga kantung semar yang bisa menjebakku dalam nikmatnya kantuk. Terimakasih untuk terjagamu, meski ragaku tak sepenuhnya tahu engkau terpejam atau terlelap. Aku hanya tahu engkau ada.
Engkau mungkin bingung kenapa aku menulis seperti ini. Rasanya tak adil saja jika seseorang begitu mengenal diri kita sementara kita tak pernah sekalipun tahu siapa dia. Aku bukannya tidak mau tahu siapa engkau, hanya itu semua tak bisa dilakuan bukan? Bagaimana hukum dalam dongeng ini?. Apakah jika aku melanggar hukumnya aku akan kalah, lalu dikeluarkan dari kisah?
Aku mengira peraturannya seperti ini, Aku tak berhak memilihmu sebagai malaikatku, begitu juga denganmu, mungkin engkau memilihku hanya karna engkau juga terikat aturan yang lain, dalam dongeng dengan kaummu sendiri, yang tentu saja punya dunia dan aturan berbeda. Kedua, aku tak pernah boleh tahu siapa engkau sebenarnya, yang aku boleh tahu adalah engkau ada. Titik. Itu saja.
Bagaimana jika aku melanggar? Aku sama sekali tak tahu, pengetahuan ini tidak membangun satu konsekuensi. Jika fiksi ini berakhir dengan senyuman, mungkin keberanianku tak seciut ini. Namun sekali lagi fakta memaksaku untuk melihat dengan jasmani. Engkau harus tahu, dongeng ini membuatku merasa sesak, seolah ada aturan lain yang memaksaku untuk tampil dengan tanpa cacat dihadapanmu. Engkau ingin aku lebih baik dari sekarang, tapi aku belum tahu apa yang menjadi risalahku. Kronologi ini seolah menjadikanku aktor yang tak hapal sama sekali skenario, gelagapan di atas pentas hingga akhirnya kepalsuan lagi yang kujual untuk tepuk tepuk tangan tanpa arti itu. Maaf jika aku terlalu menyudutkanmu, tapi mungkin memang bukan hak ku untuk menuntutmu menjadi ini dan itu. Aku hanya tahu engkau ada, tanpa bahasa, tanpa suara, bahkan isyaratpun tidak.
--------*--------
Waktu kembali mencurangiku, ketika aku bersembunyi untuk menghindar, ia tetap melaju tanpa mau mencari hadirku. Sementara bersembunyi ke tempat yang jauh, aku semakin terperosok jatuh. Melempari diri dengan jeruji negatif. Pucuk dicinta, iblis pun menggila. Ia berkolaborasi dengan waktu ingin menjebakku dalam ketiadaan. Aku dilontarkan dari ujung bianglala, ke tempat yang jauh dari latar abu-abu. Di mana aku hilang arah dan jarang lagi mengenali diri. Roda kehidupan seolah tak lagi berputar menggelinding, yang buatku hadir di tiap jerujinya untuk terus melaju. Roda itu seperti milik sepeda anak yang rebah, dan diputarkan tanpa menyentuh tanah, berputar secara horizontal sehingga aku terus berada dalam posisi yang sama tiap melewati satu putaran. Aku tak lagi tahu engkau ada, sudut mataku telah kering tak berair mata. Dunia hanya fakta, tanpa fiksi kanak-kanak. Pengetahuan membodohiku untuk percaya bahwa mereka ada lebih dulu dari sang pelukis pelangi. Sampanku terombang-ambing di tengah lautan teduh yang panas, lalu diterjang tsunami dan karam. Segera ingin ucapkan salam perpisahan pada air yang tak lagi basah.
Aku jatuh, terjerembab dan hampir lindap.
-----------*---------
24 jam
Terpujilah Allah yang luar biasa penuh kasih, yang mengetuk setiap pintu hati dengan lembut.
Malaikat, aku di pulihkan kini. Maaf, baik mulut maupun tulisan masih tak cukup untuk melukiskan betapa dahsyatnya kuasa darahNya yang mentahirkan manusia kecil ini di jumatNya yang Agung.
---------------*------------
Kesadaran dan akal sehat kembali menyeruak di tiap satuan mini ke-ada-anku. Terimakasih malaikat, atas hadirmu yang sempat buatku ragu. Meski tangan tak sempat berjabat dan bahasa belum terjalin erat, aku tahu engkau tidak hanya ada, tapi selalu ada. Ku rasa dongeng ini belum berakhir. Andai aku bisa melamarmu untuk jadi malaikatku selamanya, aku akan bersedia, meski tanpa indera untuk membuatmu ada.
Suatu hari nanti, aku akan lebih sok tau lagi tentang hidup, tentang hadirmu dan juga tentang dunia. Jangan cemburu malaikat, aku hanya ingin membuat teori baru. Bahwa engkau dan jenismu akan selalu ada di tiap ceritera kehidupan, meski dengan wujud berbeda. Engkau termanifestasi dalam tiap kehangatan di saat tangan menjadi terlalu beku untuk menjabat, di setiap senyum di saat gelap membutuhkan penerangan. Engkau bisa saja berwujud sahabat, saudara, ibu, ayah, seorang bayi mungil, supir angkot, satpam, penjual cimol atau bahkan hanya bayangan dan pemahaman yang membuat setiap hati tahu, bahwa banyak manusia di luar sana yang mebutuhkan lebih dari gumaman doa, namun juga kasih yang tulus.
Terima kasih malaikat, engkau makna yang menggelitik imaji.
Tuhan memberkatimu.
-------------*-----------