![]() |
| photo: Ade Silaban |
Sehamparan bening di pelupuk inderawiku mulai menggambar kabut yang tipis melayang turun, sebuah refleksi dari pandangan kabur akan jernihnya keagungan bayangan. Danau ini tua, bukan amarah vulkanik yang membuatnya luka, namun dipahat gelombang cinta tektonik. Permukaannya menghijau tak begitu jelas memantulkan birunya langit, karena keruh dan kabut yang terus lindap ditelan lembutnya air. Sepertinya ikan-ikan sapu masih enggan menari menyambut hangatnya radiasi mentari.
Sabar.
Konstalasi alam adalah inspirasi dari sendi kehidupan, Tuhan sang peraciknya tak melewatkan sisipan sekecilpun untuk menyadarkan manusia akan hidup. Bukan mengakhirinya, namun menekuninya dengan sabar.
Begitu juga dengan leka, aku ingin menggurat semua agung rancangan Sang Arsitek kehidupan lewat rajutan leka. Leka membuatku tahu bahwa alam tak berbahasa dan manusia bisa. Manusia nirleka mengungkap keindahan dari panca indera, tapi kini perlu lebih dari inderawi untuk berkarya. Leka hadir sebagai jawabnya.
Cerkas.
Berkelana.
Seperti Leka.
