Jeda Kata
Berbagi ruang di kala jeda
skip to main
|
skip to sidebar
Merpati Musalim
—
by
Jeda Kata
on
0 comment
Musalim tinggal di rumah kecil di ujung kampung. Di halaman depan rumahnya yang ia tanami rumpun bunga-bunga kana, ia sandarkan bangku bamb...
Mengingkar Pahit
—
by
Jeda Kata
on
0 comment
Seperti yang sudah-sudah, engkau menyambutku di balik bentengmu setiap kali aku bertamu. Bersembunyi di dalamnya hanya menegaskan kerapuha...
Kosong
—
by
Jeda Kata
on
0 comment
Aku tak yakin, apakah benar langit selalu sepias ini menjelang sore hari. Seperti ruang lain putih pekat di batas gumpalan awan...
Begitu, hujan
—
by
Jeda Kata
on
0 comment
Hujan meraup serpihan awan lalu melemparnya ke daratan, terkejut aku ditegurnya siang ini, meluncur begitu saja bersarang di lipatan m...
Rumah
—
by
Jeda Kata
on
0 comment
Rumah bagi waktu ialah hidup. Di sana ia bertumbuh, merunut muda hingga senja. Rumah bagi damai adalah ha...
Ceramah Hujan
—
by
Jeda Kata
on
0 comment
Kata hujan kepadanya: “Berbeda denganmu, aku tak pernah sekalipun jatuh seorang diri. Lucunya, kami harus jadi rombongan dulu un...
Renjana
—
by
Jeda Kata
on
0 comment
Hari ini salju turun tidak biasa. Empat jam lamanya. Butirnya diputar-putar siul angin. Berdansa lincah hingga jatuh memeluk tanah. Ad...
Di Punggung Tanganku
—
by
Jeda Kata
on
0 comment
Dua musim hampir berlalu sudah, Menghitung ribuan langkah dari beranda rumah. Andai jarak tak selaksa panah jauhnya, mudahnya rindu men...
Mengingatmu
—
by
Jeda Kata
on
0 comment
Nusa Dua, 6 Desember 2012 Malam ini saya duduk di bibir pantai, mengingat kamu. Ya, kamu yang seperti garis ombak malam putih di pertem...
Langganan:
Postingan ( Atom )
Postingan Lebih Baru
Postingan Lama
Diberdayakan oleh
Blogger
.
Labels
cerpen
Goresan
leka
malaikat
monolog
surat
terbang